RSS

Tidak ada cinta sejati, yang ada hanyalah pilihan sejati

“Astaga, jangan terlalu percaya bahwa cinta pertama itu adalah cinta yang paling indah, cinta sejati, sulit dilupakan, atau amat mengesankan.”
Itu kata ayah, dengan nada menghibur, sedikit mengejek, dan menasihatiku. Setelah mendengar ceritaku di salah satu forum lelaki. Cinta pertamaku ternyata sudah punya pacar coba. Menyakitkan. Maka malam itu, ayah menghiburku.

Berbeda dengan bunda yang harus begini dan begitu, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, ayah memberikan salah satu hal yang diinginkan oleh kaum lelaki: kebebasan. Kata ayah, tidak ada laki-laki yang lebih berani daripada laki-laki yang bertanggungjawab. Maka, kebebasanku juga memiliki syarat, harus bertanggungjawab. Tentu saja aku menerima syarat itu. Tahu alasannya kenapa? Sudah pernah kuceritakan sebelumnya bukan, kalau sebagian laki-laki sangat tidak suka dibilang pengecut. Kebetulan, aku masuk ke golongan yang sebagian itu. Dan jujur, untuk hal ini aku lebih suka caranya ayah daripada caranya bunda. Sedikit sekali orang yang mau disuruh-suruh, diatur-atur, dilarang begini dan begitu. Bahkan, untuk laki-laki dengan tingkat kenakalan tertentu, larangan hanya akan membuatnya semakin semangat untuk melanggarnya, untuk melakukannya. Bisa jadi karena tertantang, bisa juga karena penasaran.

Sedangkan dengan diberikan kebebasan, aku merasa lebih dihargai, lebih dipercaya, bisa diandalkan, dan serasa dianggap dewasa. Walaupun terkadang, harus menerima hukuman yang lebih berat ketika melanggar syarat tanggungjawab itu. Tapi setidaknya, hukuman secara langsung yang ayah berikan atau yang tidak langsung aku rasakan akibat konsekuensi perbuatan itu, selalu membuatku jera atau berpikir berulang kali sebelum melakukan kesalahan yang sama.
Itulah kenapa untuk beberapa hal aku lebih nyaman terbuka dengan ayah daripada bunda. Termasuk dalam urusan perasaanku terhadap perempuan, cinta pertamaku itu:

“Nak, mau ayah ceritakan satu rahasia kecil tentang cinta sejati.”
“Boleh, Ayah.” Jawabku sedikit malas, sedikit penasaran

“Tak ada yang namanya cinta sejati antar manusia. Apa yang selama ini kamu dengar tentang cinta sejati di cerita-cerita romantis itu, hanyalah kebohongan belaka. Apalagi, cerita tentang cinta pertama. Tak ada hebat-hebatnya, karena memang tak ada yang perlu dibanggakan. Bagi laki-laki, hanya masalah waktu saja untuk menemukan cinta pertama, kedua, ketiga dan selanjutnya. Kamu tahu, bunda itu cinta keberapa ayah?”

“Keberapa emang ayah?” aku mulai antusias
“Keempat. Ayah sudah berpacaran tiga kali dengan perempuan yang berbeda sebelum memutuskan menikah dengan bunda.”
“Hah, kenapa bisa sebanyak itu Ayah?” aku kaget, ayah tertawa kecil.
“Kenapa bisa sebanyak itu, dan kenapa memilih bunda adalah salah satu pelajaran paling berharga dalam hidup ayah.”

“Laki-laki dan perempuan sama-sama punya kecenderungan untuk tertarik satu sama lain. Selama laki-laki itu normal, Bohong kalau laki-laki tidak menyukai perempuan manapun. Pasti ada salah satu atau beberapa perempuan yang lebih disukai seorang laki-laki di atas perempuan yang lainnya sebaliknya, itu juga berlaku ntuk perempuan. Seperti di sekolah, kamu lebih menyukai cinta pertamamu itu daripada perempuan lainnya bukan? Di tempat yang lainpun, kamu akan menemukan perempuan yang lebih kamu sukai daripada perempuan lain di tempat tersebut. Rasa suka itu muncul entah dari interaksi yang sering, dari karakter yang cocok, dari prinsip yang sama, dari fisiknya, juga dari penyebab-penyebab yang lainnya. Itu sangat manusiawi. Tidak bisa dihindari, kita hanya harus mengendalikannya. Sayangnya, dulu ayah kurang bisa mengendalikan itu. Itulah sebabnya kenapa ayah berganti-ganti pacar sebelum bertemu dengan bundamu.”

“Emang, apa yang dilakukan bunda kepada ayah?”

“Bunda mengajarkan ayah tentang pilihan yang sejati. Memang benar tidak ada cinta sejati antar manusia, karena cinta sejati cukup diperuntukkan kepada Allah. Tetapi, selalu ada pilihan yang sejati. Sejak ayah bertemu bunda, berkenalan lebih dekat dengan bunda, bahkan sempat berpacaran beberapa waktu dengan bunda, entah apa penyebabnya, tiba-tiba bunda memberikan pilihan yang sulit kepada ayah: segera menikahi bunda atau silahkan cari perempuan lain untuk berpacaran. Setelah ayah berfikir dan merenung, ayah memilih pilihan yang pertama. Dan bunda benar-benar hebat mengajarkan ayah tentang arti pilihan itu.”

“Emang apa itu pilihan yang sejati?”

”Pilihan yang benar-benar dijalankan konsekuensinya. Kenapa ayah sempat berpacaran, bahkan berganti-ganti, itu karena dulu ayah tidak terlalu hebat dan berani dalam membuat pilihan tentang cinta. Tidak memahami bahwa, jika seseorang telah memilih untuk mencintai pasangannya, tak peduli seberapa tidak sempurna pasangan tersebut, selama ada saling memahami, saling menerima, saling menambal, dan saling memberi, cinta itu akan tumbuh kian membesar. Sehingga, untuk cinta jenis ini, ayah tak membutuhkan lagi cinta-cinta selanjutnya. Cukup bunda saja. Itu yang bundamu lakukan dan ajarkan kepada ayah. Itu salah satu bentuk pilihan dalam cinta, yang sudah ayah dan bunda putuskan bersama, dan keputusan itu berakhir sampai salah satu diantara kami meninggal dunia.”

“Emang ada pilihan yang lain, Ayah?”

“Ada, bagi mereka yang kurang ajar dan tak tahu diri, melampiaskan cinta kedua, ketiga dan selanjutnya dengan berselingkuh. Bagi yang taat banget beragama, memiliki rasa adil tingkat tinggi dan keikhlasan berbagi kasih sayang, saling bersepakat melakukan poligami. Bagi yang takut dosa, sebenarnya enggak taat-taat banget dalam beragama menggunakan poligami sebagai alasan saja. Tapi itu jauh lebih baik daripada mereka yang berselingkuh.”

“Ha,, ha,, “ aku tertawa
“Berarti aku harus menghapus cinta pertamaku dong, Yah?”

“Tak ada yang perlu dihapus dari sebuah kenangan. Karena setiap kenangan selalu bisa memberikan hikmah. Kita hanya harus mengatur hati, agar kenangan itu tidak merusak masa depan. Lagipula, seberapa keraspun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa memiliki semuanya. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus bersyukur dengan apa yang ada.”

“Sepertinya kita juga tidak membutuhkan semuanya, bukan? Hanya beberapa saja. Makanya, cukup fokus pada apa-apa yang kamu butuhkan, dan apa-apa yang benar-benar sangat kamu inginkan. Itu sudah lebih dari cukup. Dan menurut ayah, kamu tidak terlalu membutuhkan pacaran bukan? Juga masih terlalu kecil untuk menginginkan berkeluarga.”

“Iya juga sih.”
“Astaga, bukankah kamu juga sudah janji sama bunda kalau tidak akan pacaran?”
“Sst, jangan keras-keras ayah, nanti bunda denger.”

*penjelasan ayah tentang cinta sejati adalah pengembangan dari quotes tere liye: “
tak ada cinta yang sejati, yang ada hanyalah pilihan yang sejati” (N.A)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar